Oleh: Siti Amie
Penulis adalah Praktisi Pendidikan di Kota Dumai
PERNAHKAH Kita membayangkan kembali kehidupan sebelum internet menjadi bagian dari keseharian?
Dulu, menunggu adalah sesuatu yang biasa. Menunggu surat balasan selama berhari-hari, menunggu acara televisi favorit pada akhir pekan, atau menunggu giliran berbicara dalam sebuah pertemuan. Tidak ada pilihan untuk mempercepat semuanya hanya dengan satu sentuhan layar.
Generasi yang tumbuh pada masa itu—termasuk sebagian generasi Milenial dan generasi sebelumnya—secara tidak langsung terbiasa dengan proses. Ada hal-hal yang memang membutuhkan waktu untuk mendapatkan hasil. Kepuasan tidak selalu datang seketika.
Kini, situasinya berubah.
Di ruang keluarga, sekolah, kedai kopi, bahkan di tengah perkumpulan, mudah ditemukan remaja yang begitu lekat dengan layar. Jari mereka berpindah dari satu video ke video berikutnya hanya dalam hitungan detik. Informasi datang tanpa henti. Hiburan tersedia kapan saja. Respons dapat diperoleh hampir seketika.
Bagi Gen Z dan Alpha, teknologi bukan lagi sekadar alat bantu. Dunia digital telah menjadi bagian dari lingkungan tempat mereka tumbuh.
Perubahan ini tentu tidak otomatis menjadikan mereka generasi yang buruk. Namun, perubahan lingkungan digital membawa tantangan baru dalam pembentukan kebiasaan, kemampuan berkonsentrasi, mengelola kebosanan, dan membangun ketekunan.
Ketika Dunia Nyata Terasa Terlalu Lambat
Kita mungkin pernah menemukan remaja yang enggan mengikuti kegiatan organisasi, tidak betah dalam pertemuan panjang, atau cepat kehilangan minat ketika sebuah kegiatan tidak segera menunjukkan hasil.
“Kenapa harus lama-lama?”
“Bisa lewat chat saja, kan?”
“Memangnya hasilnya apa?”
Pertanyaan seperti ini tidak selalu menunjukkan kemalasan. Bisa jadi ada perubahan pola interaksi yang perlu dipahami oleh generasi yang lebih tua.
Di dunia digital, seseorang terbiasa memperoleh respons dengan cepat. Sebuah unggahan mendapatkan tanda suka dalam hitungan menit. Video berikutnya dapat dipilih hanya dengan menggeser layar. Mesin pencari memberikan jawaban dalam sekejap.
Sebaliknya, kehidupan nyata tidak bekerja seperti itu.
Menyusun sebuah kegiatan sosial membutuhkan perencanaan. Membuat program pendidikan membutuhkan proses. Membangun organisasi membutuhkan kepercayaan. Bahkan perubahan masyarakat membutuhkan waktu yang panjang.
Di sinilah muncul tantangan: bagaimana membuat generasi yang terbiasa dengan kecepatan digital tetap mampu menghargai proses yang panjang?
Bukan Generasi Lembek
Kesalahan yang sering terjadi adalah memberi label kepada generasi muda sebagai generasi “lembek”, tidak tahan tekanan, tidak mau berjuang, atau terlalu nyaman dengan dunia digital.
Padahal, menghakimi tidak menyelesaikan persoalan.
Generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang berbeda. Mereka memiliki kemampuan yang juga berbeda: cepat beradaptasi dengan teknologi, mudah mengakses informasi, terbiasa bekerja secara visual, serta mampu membangun jejaring melalui ruang digital.
Yang dibutuhkan bukan memaksa mereka menjadi seperti generasi sebelumnya, melainkan membantu mereka menggunakan keunggulan tersebut untuk membangun kemampuan yang mungkin tidak otomatis terbentuk dari lingkungan digital—kesabaran, ketekunan, tanggung jawab, empati, dan kemampuan menyelesaikan sesuatu sampai tuntas.
Di sinilah keluarga, sekolah, organisasi, dan masyarakat memiliki pekerjaan rumah bersama.
Mengubah Cara Mendampingi
Jika ingin mengajak generasi muda terlibat dalam kegiatan sosial, pendidikan, maupun organisasi, jangan selalu memulai dengan target yang terlalu jauh.
Sebuah visi besar tetap penting, tetapi perlu diterjemahkan menjadi langkah-langkah yang konkret. Tugas besar dapat dibagi menjadi target kecil yang jelas. Kemajuan perlu terlihat. Evaluasi tidak harus selalu berupa rapat panjang.
Rapat pun perlu memiliki tujuan yang jelas. Jika sebuah persoalan dapat diselesaikan melalui komunikasi singkat dan terstruktur, tidak semuanya harus dibicarakan berjam-jam.
Namun, efisiensi bukan berarti menghilangkan proses pembelajaran.
Anak muda tetap perlu mengalami bagaimana menyelesaikan pekerjaan yang membosankan. Mereka perlu belajar bahwa tidak semua aktivitas memberikan kesenangan secara instan. Mereka juga perlu memahami bahwa tanggung jawab terkadang berarti tetap menyelesaikan sesuatu meskipun sedang tidak bersemangat.
Justru kemampuan bertahan dalam proses inilah yang perlu dilatih.
Teknologi pun tidak harus diposisikan sebagai musuh. Ruang digital dapat digunakan untuk menggerakkan kegiatan nyata. Konten dapat menjadi sarana edukasi. Media sosial dapat menjadi pintu untuk memperkenalkan kegiatan sosial. Kemampuan membuat desain, video, tulisan, maupun mengelola platform digital dapat diarahkan menjadi kontribusi yang bermanfaat.
Dengan demikian, yang dibutuhkan bukan sekadar “detoks digital”, melainkan keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata.
Membentuk Generasi yang Tidak Hanya Cepat, tetapi Tangguh
Bagi masyarakat Riau, persoalan ini juga layak menjadi perhatian. Generasi muda hari ini kelak akan menjadi guru, tenaga kesehatan, pengusaha, birokrat, pemimpin masyarakat, dan penggerak berbagai sektor pembangunan daerah.
Kita tentu membutuhkan generasi yang cepat beradaptasi. Namun, kecepatan saja tidak cukup.
Kita membutuhkan anak muda yang mampu bersabar ketika hasil belum terlihat, tetap bertanggung jawab ketika pekerjaan terasa berat, mampu bekerja bersama orang lain, dan memiliki tujuan hidup yang lebih besar daripada sekadar mengejar pengakuan di media sosial.
Karena itu, tugas generasi sebelumnya bukan mencela perubahan zaman, sementara tugas generasi muda bukan pula menolak seluruh nasihat generasi terdahulu.
Keduanya perlu bertemu di tengah.
Generasi yang lebih tua membawa pengalaman, ketahanan, dan kebijaksanaan. Generasi baru membawa kecepatan, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi. Jika keduanya dipertemukan dengan cara yang tepat, perbedaan generasi justru dapat menjadi kekuatan.
Jangan buru-buru menyebut Gen Z dan Alpha sebagai generasi yang kehilangan arah.
Mungkin yang mereka butuhkan bukan ceramah panjang tentang betapa buruknya zaman mereka, melainkan orang dewasa yang mau memahami dunia tempat mereka tumbuh, kemudian menuntun mereka agar tidak sekadar menjadi penghuni dunia digital.
Sebab masa depan tidak hanya membutuhkan generasi yang cepat merespons notifikasi.
Masa depan membutuhkan generasi yang mampu berhenti sejenak, berpikir, memilih dengan sadar, lalu bertahan memperjuangkan sesuatu yang diyakininya benar—meski hasilnya tidak datang hari ini. ***


